Perisai Keluarga: Ketua TP PKK HST Galang Kekuatan Orang Tua untuk Cegah Stunting dan Tameng Kekerasan pada Anak
Banjar Express- Di tengah upaya membangun generasi penerus yang unggul, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menggenjot dua isu krusial yang menjadi tantangan serius: pencegahan stunting dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dalam momentum yang strategis, Ketua TP PKK HST, Deni Era Samsul Rizal, secara tegas menempatkan keluarga sebagai garda terdepan dalam memenangi pertempuran ini.

Baca Juga : Langkah Awal Menuju Strategi Pemberantasan Narkoba Yang Lebih Terukur Di UNUKASE
“Pemerintah hadir dengan kebijakan dan program, tetapi ujung tombak keberhasilannya ada di dalam setiap rumah tangga. Kitalah, para orang tua dan anggota keluarga, yang memegang kunci utama,” seru Deni Era, mengajak seluruh peserta untuk lebih proaktif.
Keluarga: Benteng Pertama Lawan Stunting
Deni Era memaparkan, peran keluarga dalam mencegah stunting dimulai dari hal-hal paling mendasar. Ia mendorong setiap ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, sebagai fondasi imunitas dan nutrisi yang tak tergantikan.
“Setelah periode ASI eksklusif, pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang bergizi seimbang adalah langkah krusial berikutnya. Isi piring makannya dengan aneka ragam makanan, perbanyak sayur, buah, dan sumber protein,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya rutin memantau tumbuh kembang anak ke Posyandu. “Jangan tunggu sampai ada masalah. Pemantauan berkala ini adalah deteksi dini yang paling efektif untuk mencegah stunting sedini mungkin.”
Ancaman yang Kian Nyata: Lonjakan Kasus Kekerasan
Tidak hanya stunting, Deni Era dengan prihatin menyoroti tren yang mengkhawatirkan terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak di HST. Ia memaparkan data yang mencengangkan: dari 32 kasus pada tahun 2021, angka ini melonjak drastis menjadi 59 kasus di tahun 2023.
“Data ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Setiap angka di baliknya adalah seorang anak atau perempuan yang terluka, baik secara fisik maupun psikis. Kita tidak boleh tinggal diam,” tegasnya dengan penuh keprihatinan.
PKK Garda Terdepan, Jangan Takut Melapor!
Dalam menghadapi situasi ini, Deni Era menegaskan peran kader PKK di tingkat desa dan kecamatan sebagai ujung tombak perlindungan. Ia mendorong para kader untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya.
“Ibu-ibu kader PKK harus berani menjadi mata dan telinga. Jika menemukan indikasi atau kasus kekerasan, jangan ragu, jangan takut, dan jangan diam. Laporkan!” tegasnya. “Kita harus aktif menciptakan Kampung Ramah Anak, lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita untuk tumbuh besar tanpa rasa takut.”
“Tujuan kita satu: membangun generasi HST yang sehat, cerdas, dan terlindungi dari ancaman stunting maupun kekerasan,” tutupnya penuh harap.
Sebagai bagian dari sosialisasi, acara juga menghadirkan Psikolog Klinis dari RSHD Barabai, Dwi Meiliyana. Dalam pemaparannya, ia mengupas tuntas dampak traumatis jangka panjang yang dialami korban kekerasan seksual, seperti gangguan kecemasan, depresi, dan trauma berkepanjangan. Ia menekankan bahwa dukungan keluarga adalah obat psikologis pertama dan terpenting bagi pemulihan korban.
“Keluarga harus menjadi tempat yang paling aman untuk bercerita. Tanggapi curhat anak dengan serius, percayai mereka, dan berikan dukungan penuh tanpa menyalahkan. Kata-kata dan sikap keluarga dapat menjadi penyelamat atau justru memperparah luka mereka,” pungkas Dwi Meiliyana mengingatkan.



