BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Masyarakat Pesisir Kalsel Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Ancaman Banjir

Waspada! Gelombang Pasang Laut Ancam Pesisir Kalsel, Ini Daerah dan Waktu yang Berpotensi Terdampak

Banjar Express- Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Kalimantan Selatan (Kalsel) diminta meningkatkan kewaspadaannya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor Banjarmasin baru saja mengeluarkan peringatan dini terhadap potensi banjir rob atau banjir pesisir yang dipicu oleh gelombang pasang air laut maksimum.

Masyarakat Pesisir Kalsel Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Ancaman Banjir
Masyarakat Pesisir Kalsel Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Ancaman Banjir

Baca Juga : Kedermawanan Warga Dimanipulasi, Pelaku Pungli Berkedok Ibadah Diciduk

Klik Disini

Peristiwa alam yang diprediksi akan terjadi pada pekan ini ini berpotensi mengganggu aktivitas harian warga, terutama di sektor transportasi laut, perikanan, dan permukiman di tepi pantai.

Puncak Gelombang Pasang dan Waktu yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan rilis resmi dari Kepala Stamet Syamsudin Noor, Ota Welly Jenni Thalo, fenomena pasang maksimum ini diprediksi akan mencapai puncaknya di perairan Kotabaru. Masyarakat perlu bersiap-siap dalam rentang waktu yang cukup panjang, yaitu dari 21 hingga 28 Oktober 2025.

Setiap hari dalam periode tersebut, pada pukul 18.00 – 22.00 WITA, ketinggian air laut diperkirakan dapat menyentuh level 2,9 meter. Ketinggian yang signifikan inilah yang memicu kekhawatiran terjadinya genangan air laut ke daratan atau yang lebih dikenal sebagai banjir rob.

Apa Penyebab Gelombang Pasang Ini?

Fenomena alam ini bukan terjadi tanpa sebab. Ota Welly menjelaskan bahwa puncak pasang air laut ini berkaitan erat dengan fase purnama yang jatuh pada tanggal 21 Oktober 2025. Pada fase bulan purnama, gaya gravitasi bulan dan matahari bekerja searah, menarik massa air laut sehingga menyebabkan pasang naik yang lebih tinggi dari biasanya.

“Berdasarkan prediksi data water level dan pantauan pasang surut, banjir pesisir atau rob berpotensi tinggi terjadi di wilayah pesisir Kalsel,” tegas Ota, menegaskan bahwa peringatan ini didasarkan pada data ilmiah.

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak

BMKG memetakan beberapa wilayah pesisir yang memiliki kerentanan tinggi untuk terdampak banjir rob. Masyarakat di daerah berikut diharapkan untuk siaga dan mengambil langkah-langkah antisipasi sedini mungkin:

  • Kabupaten Kotabaru

  • Kabupaten Tanahbumbu

Dampak yang Bisa Ditimbulkan dan Imbauan untuk Masyarakat

Banjir rob bukan hanya sekadar genangan air. Ota Welly memaparkan bahwa fenomena ini dapat mengakibatkan sejumlah gangguan, seperti:

  • Terhambatnya aktivitas bongkar muat di pelabuhan.

  • Gangguan pada transportasi dan lalu lintas di sekitar kawasan pesisir.

  • Genangan air laut yang masuk ke permukiman warga.

  • Gangguan terhadap aktivitas perikanan darat dan tambak.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau seluruh masyarakat, khususnya yang berdomisili di pesisir pantai Kotabaru dan Tanahbumbu, untuk selalu waspada dan sigap dalam mengantisipasi dampak dari pasang maksimum ini.

Langkah-langkah praktis seperti memindahkan kendaraan ke tempat yang lebih tinggi, menyelamatkan dokumen penting, serta mengamankan barang-barang berharga di rumah dapat mengurangi dampak kerugian jika banjir rob benar-benar terjadi. Dengan kesiapan yang matang, diharapkan keselamatan warga dan harta benda dapat lebih terjaga.

Melihat ke Depan: Adaptasi Jangka Panjang Menghadapi Perubahan Iklim

Fenomena banjir rob ini bukanlah peristiwa satu kali. Nyatanya, frekuensi dan intensitasnya cenderung meningkat belakangan ini. Akibatnya, kita perlu memikirkan solusi yang lebih berkelanjutan.

Di satu sisi, pemerintah dapat berinvestasi dalam infrastruktur penahan, seperti tanggul pantai dan pemecah ombak yang lebih kokoh. Di sisi lain, masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan melestarikan hutan bakau (mangrove) di sepanjang garis pantai. Hutan bakau berfungsi sebagai benteng alami yang sangat efektif meredam gelombang dan mencegah abrasi.

Sebagai contoh, program penanaman dan rehabilitasi mangrove yang melibatkan kelompok masyarakat pesisir akan memberikan manfaat ganda. Selain melindungi pemukiman dari banjir rob, program ini juga dapat meningkatkan ekosistem perikanan dan bahkan membuka peluang ekowisata.

Dengan kata lain, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun pertahanan pantai yang berkelanjutan adalah kunci utama. Oleh karena itu, peringatan dini dari BMKG ini seharusnya tidak hanya menjadi alarm kewaspadaan, tetapi sekaligus menjadi pengingat untuk segera bertindak dan beradaptasi dengan dinamika alam yang terus berubah.

Masyarakat Bersiap: Aksi Nyata Hadapi Gelombang Pasang

Selanjutnya, masyarakat di pesisir Kotabaru dan Tanahbumbu tidak tinggal diam. Mereka telah mulai mengambil tindakan nyata. Misalnya, kelompok nelayan setempat secara sukarela mengatur jadwal melaut mereka untuk menghindari jam-jam kritis gelombang pasang. Bahkan, beberapa warga secara gotong royong membersihkan saluran air untuk memastikan aliran air lancar jika rob datang.

Selain itu, para pemilik usaha di kawasan pelabuhan juga menunjukkan kesiapsiagaan yang tinggi. Mereka telah memindahkan barang-barang dagangan mereka ke gudang yang lebih tinggi. Akibatnya, aktivitas ekonomi dapat terus berjalan dengan risiko kerugian yang lebih minimal.

Kolaborasi Kunci: Sinergi Pemerintah dan Warga

Sementara itu, pemerintah daerah membangun posko komando gabungan. Posko ini bertugas memantau perkembangan situasi secara langsung dan terus-menerus. Lebih jauh lagi, mereka juga menyiarkan informasi terkini melalui pengeras suara di masjid-masjid dan melalui grup aplikasi percakapan warga.

Sebagai contoh, ketika ketinggian air mulai mendekati level waspada, relawan segera membagikan karung pasir kepada warga. Kemudian, bersama-sama, mereka mendirikan pembatas darurat di titik-titik rawan. Dengan demikian, respons terhadap ancaman menjadi lebih cepat dan terkoordinasi.

Pada akhirnya, kesiapan menghadapi bencana seperti ini membutuhkan usaha kolektif. Setiap pihak, mulai dari individu, komunitas, hingga pemerintah, memegang peran kritisnya masing-masing. Oleh karena itu, kewaspadaan dan aksi proaktif harus kita pertahankan, tidak hanya selama periode peringatan ini, tetapi juga sebagai bagian dari budaya hidup kita di wilayah pesisir.

Klik Disini