BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Membangun Kembali Kepercayaan Publik, Langkah Prioritas Pasca Insiden MBG Di Banjar

Pasca Keracunan MBG, Kemenag Banjar Fokus Pulihkan Trauma Psikologis Siswa dan Kepercayaan Orang Tua

Banjar Express- Pasca insiden dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menyita perhatian publik, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banjar mengambil langkah proaktif dan komprehensif. Tidak hanya berfokus pada penyelidikan teknis, langkah terpenting yang kini diambil adalah pemulihan kondisi psikologis para siswa serta membangun kembali kepercayaan masyarakat yang sempat goyah.

Membangun Kembali Kepercayaan Publik, Langkah Prioritas Pasca Insiden MBG Di Banjar
Membangun Kembali Kepercayaan Publik, Langkah Prioritas Pasca Insiden MBG Di Banjar

Baca Juga : Keluarga Sebagai Benteng Utama Strategi HST Melawan Stunting Dan Kekerasan Pada Perempuan Dan Anak

Klik Disini

Insiden yang melibatkan menu nasi kuning dan menjangkiti hingga 130 orang pelajar dari sejumlah madrasah dan sekolah di Martapura ini, mendapat sorotan serius, termasuk dari DPRD Kabupaten Banjar. Menanggapi hal ini, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banjar, H. Muhammad Rofi’i, menegaskan komitmennya untuk menangani masalah ini hingga tuntas, dengan transparansi penuh.

“Kami menyadari betapa dalam dampak yang dirasakan, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis. Fokus kami saat ini ada pada dua hal utama: healing untuk anak-anak kita dan restorasi kepercayaan dari orang tua dan masyarakat,” ujar Rofi’i dengan penuh keyakinan.

Lebih Dari Sekadar Obat: Membangun Kembali Senyum Anak-Anak

Rofi’i mengakui bahwa meski gejala fisik telah teratasi, dampak psikologis masih membayangi beberapa siswa dan wali murid. Rasa takut, cemas, dan trauma terhadap program makanan sekolah masih terasa.

“Kami mendapat laporan bahwa ada beberapa anak yang menjadi enggan makan atau merasa was-was. Begitu pula dengan orang tuanya. Ini adalah aspek kemanusiaan yang tidak boleh kami abaikan,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal ini, Kemenag Banjar tidak bekerja sendirian. Mereka tengah merancang program pendampingan psikologis yang melibatkan tenaga profesional, seperti psikolog anak, untuk membantu para siswa mengatasi kecemasan dan traumanya. Pendekatan yang dilakukan diharapkan dapat mengembalikan rasa aman dan nyaman anak-anak dalam lingkungan belajar mereka.

Transparansi dan Kolaborasi: Kunci Menjawab Semua Tanda Tanya

Di sisi lain, upaya untuk mengungkap akar permasalahan terus digalakkan. Rofi’i menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan berbagai instansi terkait untuk memastikan investigasi berjalan objektif.

“Kami bekerja sama dengan Polres Banjar untuk proses hukum, dengan BPOM untuk pengujian sampel makanan dan temuan di lapangan, serta dengan Badan Gizi Nasional untuk memastikan standar keamanan pangan ke depannya,” paparnya.

Hasil laboratorium dari sampel yang diambil dinantikan sebagai bukti konkret yang akan menentukan langkah selanjutnya. Komitmen terhadap transparansi ini diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan publik dan menjadi fondasi untuk perbaikan sistem.

Membangun Kembali Kepercayaan, Menyelamatkan Masa Depan Program

Program MBG pada dasarnya adalah program mulia yang bertujuan meningkatkan gizi dan mendukung proses belajar anak-anak. Rofi’i menyadari bahwa insiden ini bisa menjadi pukulan bagi kredibilitas program tersebut.

“Komunikasi adalah kuncinya. Langkah-langkah perbaikan prosedur pengawasan, pelatihan bagi penyedia layanan, dan sistem pelaporan yang lebih cepat dan akurat tengah disusun. Tujuannya jelas: memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan program MBG dapat kembali dipercaya sebagai program yang aman, bergizi, dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak-anak di Kabupaten Banjar.

Klik Disini