BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Peningkatan Kapasitas SDM Strategi Pemko Banjarmasin Tangani Kekerasan Perempuan Dan Anak

Dari Trauma ke Pemulihan: Langkah Strategis Banjarmasin Wujudkan Kota Layak Perempuan dan Anak

Banjar Express- Pemerintah Kota Pemko Banjarmasin meningkatkan kewaspadaan dan komitmennya dalam menangani kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (KtPA). Peningkatan ini tidak hanya pada aspek responsif, tetapi yang utama adalah pada kapasitas sumber daya manusia penanganannya. Melalui pelatihan intensif, Pemko Banjarmasin membekali para konselor—yang merupakan ujung tombak di lapangan—dengan keterampilan yang lebih mumpuni.

Peningkatan Kapasitas SDM Strategi Pemko Banjarmasin Tangani Kekerasan Perempuan Dan Anak
Peningkatan Kapasitas SDM Strategi Pemko Banjarmasin Tangani Kekerasan Perempuan Dan Anak

Baca Juga : Puluhan Warga Desa Aluan Mati Bahu-Membahu Bangun Pos Kamling Baru

Klik Disini

Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin, secara resmi membuka Pelatihan Konselor bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Satuan Tugas (Satgas) PPA. Dalam sambutannya, Yamin menekankan bahwa dampak kekerasan tidak hanya meninggalkan luka fisik yang kasat mata, tetapi juga trauma psikologis yang dalam dan seringkali lebih sulit untuk disembuhkan.

Korban kekerasan, terutama perempuan dan anak, tidak hanya membutuhkan pertolongan medis untuk lukanya

Mereka mengalami luka batin, ketakutan, dan trauma yang kompleks. Untuk itu, penanganan dari tenaga profesional yang tepat dan penuh empati adalah sebuah keharusan, tegas Yamin.

Ia menilai, pelatihan semacam ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah investasi penting untuk membangun sistem perlindungan yang efektif. Peran konselor dinilai sebagai ujung tombak utama. Mereka adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dengan korban, memberikan pendampingan sejak kasus ditemukan, selama proses hukum berlangsung, hingga fase pemulihan yang krusial.

Keberadaan konselor yang kompeten sangat vital

Mereka yang akan mendampingi korban dalam proses pemulihan, memberikan penguatan psikologis, dan membantu korban bangkit kembali dari keterpurukannya. Inilah mengapa peningkatan kapasitas mereka tidak bisa ditawar, jelas Wali Kota.

Lebih jauh, Yamin berharap para konselor yang telah dilatih dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Mereka diharapkan tidak hanya menunggu kasus terjadi, tetapi juga aktif menumbuhkan kesadaran dan kepedulian kolektif.

“Para konselor diharapkan bisa mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi perempuan dan anak. Upaya pencegahan melalui penyadaran masyarakat adalah kunci untuk memutus mata rantai kekerasan,” imbuhnya.

Harapan akhirnya, dengan adanya konselor yang andal dan masyarakat yang sadar, setiap kasus kekerasan dapat ditangani dengan prinsip cepat, tepat, dan tuntas.

Data yang Mengkhawatirkan: Angka Kasus Mendekati Total Setahun

Pentingnya langkah strategis ini ditegaskan oleh data yang dirilis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Banjarmasin. Data yang mencengangkan menunjukkan bahwa dalam periode Januari hingga Juli 2025 saja, telah tercatat 105 kasus kekerasan.

Angka ini sangat mengkhawatirkan karena hampir menyamai total kasus sepanjang tahun 2024, yang berjumlah 180 kasus. Tren kenaikan ini menjadi alarm darurat yang memerlukan aksi nyata dan sistematis.

Dari 105 kasus yang terjadi pada tahun ini, rincian korbannya adalah:

  • 33 kasus dengan korban anak laki-laki.

  • 32 kasus dengan korban anak perempuan.

  • 40 kasus dengan korban perempuan dewasa.

Data ini dengan jelas menunjukkan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang kebal, dan perlindungan harus diberikan secara menyeluruh kepada seluruh kelompok rentan. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi konkret untuk menekan laju angka kekerasan ini dan memberikan justice serta pemulihan yang lebih baik bagi para korban.

Klik Disini